Oleh RD. Leo Mali
Bersukacitalah. “Padang gurun dan padang kering bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga” (Yes 35:1). Kalimat Nabi Yesaya ini merupakan sebuah paradoks yang indah.
Padang gurun—simbol kekeringan, kesepian, dan kemandekan—justru menjadi tempat lahirnya sukacita. Yang bersorak bukan taman yang subur, melainkan tanah tandus yang sudah lama ditinggalkan hujan.
Dengan cara ini, Nabi Yesaya menyingkapkan satu kebenaran mendalam di balik teologi kemakmuran yang kerap menyesatkan: sukacita sejati tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari kehadiran Tuhan yang mendekat. Advent adalah waktu penantian.
Namun penantian yang dimaksud bukanlah penundaan pasif, melainkan sikap batin yang sadar, waspada, dan penuh harap. Sukacita Advent bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan kegembiraan yang matang oleh kesabaran.
Tanpa kesabaran, sukacita menjadi rapuh; ia mudah berubah menjadi kekecewaan ketika harapan tidak segera terpenuhi. Karena itu, menunggu dan bersabar bukan sekadar sikap moral, melainkan jalan menuju kepenuhan sukacita.
Rasul Yakobus membantu kita memahami logika ini dengan bahasa yang sangat konkret. Ia menunjuk pada petani yang menunggu hasil tanahnya. Petani tidak menciptakan hujan, tidak mempercepat musim, dan tidak memaksa benih tumbuh.
Yang ia lakukan adalah setia pada pekerjaannya dan sabar terhadap waktu. Di sini, kesabaran bukan berarti pasrah tanpa daya, tetapi kesetiaan pada proses kehidupan.
Dalam terang iman, kesabaran adalah bentuk kepercayaan bahwa sejarah hidup manusia berada dalam tangan Penyelenggaraan Ilahi, bukan sekadar hasil kehendak manusia. Dalam filsafat hidup, kesabaran selalu berkaitan dengan pengakuan akan keterbatasan manusia. Kita bukan penguasa waktu.
Kita hidup di antara “sudah” dan “belum”. Kita sudah berharap, tetapi belum sepenuhnya melihat penggenapan harapan itu. Advent menempatkan kita tepat di ruang antara itu. Di sanalah iman diuji dan dimurnikan. Yohanes Pembaptis memberi wajah manusiawi pada penantian ini. Ia bukan sosok yang kebal terhadap keraguan.
Di dalam penjara, ia bertanya: “Engkaukah Dia yang akan datang, atau haruskah kami menantikan yang lain?” Pertanyaan ini bukan tanda iman yang runtuh, melainkan iman yang jujur. Yohanes tidak memendam kebingungannya, tetapi membawanya ke sumber yang benar.
Ia mengutus murid- muridnya langsung kepada Yesus. Di sinilah kita belajar bahwa iman tidak meniadakan pertanyaan, tetapi mengarahkan pertanyaan pada Pribadi yang dapat memberi makna. Yesus menjawab Yohanes bukan dengan definisi teologis, melainkan dengan menunjuk pada realitas hidup: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang miskin menerima kabar baik.
Kebenaran tentang Mesias tidak dibuktikan lewat kata- kata besar, tetapi lewat tindakan yang memulihkan kehidupan. Dengan demikian, sukacita Advent bukanlah emosi subjektif, melainkan pengenalan akan kehadiran Tuhan yang bekerja secara nyata dalam sejarah manusia.
Kita bersukacita di tengah penantian. Namun sukacita ini bukanlah hiburan yang membuat kita lupa akan luka dan tanggung jawab hidup. Ia bukan kesenangan yang memabukkan dan meninabobokan kesadaran. Sukacita sejati selalu bersifat relasional: ia mengarah pada Dia yang dinanti.
Jika sukacita dilepaskan dari sumbernya, ia kehilangan kedalaman dan berubah menjadi pelarian. Sukacita yang ditumbuhkan dari iman dan harapan bukanlah sebuah candu.
Karena dia memiliki arah dan sasaran yang jelas. Dalam perspektif filosofis, sukacita sejati adalah pengalaman makna. Ia muncul ketika hidup dirasakan bergerak menuju sebuah tujuan tertentu.
Advent mengingatkan kita bahwa tujuan hidup manusia bukanlah kepastian yang kita bangun sendiri, seperti pencakar langit yang kita bangun dengan susah payah, melainkan harapan yang datang menghampiri kita.
Tuhan yang akan datang adalah dasar dari sukacita kita. Karena itu, kita bisa bersukacita bahkan ketika hidup masih seperti padang gurun. Minggu Gaudete mengajak kita untuk memandang hidup dengan mata harapan.
Di tengah kekeringan batin, ketidakpastian sosial, dan luka-luka sejarah pribadi maupun sejarah bersama sebagai satu masyarakat, kita diingatkan: Tuhan sedang datang dan pasti akan datang. Kesabaran kita dalam menunggu (sebagaimana kebajikan menunggu selama empat minggu sebelum merayakan natal) akan menjaga harapan agar tetap hidup.
Sebab harapan dalam hati kita akan memberi ruang bagi sukacita sejati. Seperti padang gurun yang berbunga, demikianlah hati manusia yang menanti Tuhan dengan setia: ia tidak luput dari penderitaan, tetapi ia tidak kehilangan makna dan harapan.***











