KUPANG, DELEGASI.NET — Solidaritas merupakan identitas hakiki Gereja Katolik, bukan sekadar nilai sosial. Gagasan itu menjadi benang merah salah satu materi dalam Retret Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI) Regio Timor yang digelar di Kupang, 12–14 Desember 2025.
Materi disampaikan oleh RD Leo Mali, yang mewakili Uskup memimpin misa pembukaan sekaligus menyampaikan refleksi awal retret. Kegiatan ini diikuti para alumni PMKRI dari berbagai wilayah di Regio Timor dan diarahkan sebagai ruang pendalaman iman serta refleksi peran sosial umat Katolik.
Dalam pemaparannya, RD Leo, yang didampingi Yuventus Tukung sebagai moderator, menegaskan bahwa solidaritas Katolik berakar pada peristiwa inkarnasi—Allah yang hadir dalam sejarah manusia dan memikul beban kehidupan umat-Nya. Dari peristiwa itulah Gereja belajar memahami cara Allah memandang dan mencintai dunia.
Menurut dia, solidaritas tidak dapat dipisahkan dari iman. Tanpa solidaritas, iman kehilangan daya kesaksiannya; sebaliknya, solidaritas yang tidak berakar pada iman berisiko berhenti pada aktivisme sosial semata.
Persekutuan Gereja
Dalam kehidupan internal Gereja, solidaritas diwujudkan sebagai persekutuan iman. Persekutuan ini, kata RD Leo, tidak dibangun oleh kesamaan latar belakang sosial, suku, atau kepentingan, melainkan oleh iman kepada Kristus yang mempersatukan umat sebagai satu tubuh.
Solidaritas itu tampak dalam kesediaan saling menopang, menghormati martabat setiap pribadi, serta menghidupi semangat pelayanan. “Pelayanan bukan tambahan kegiatan Gereja, melainkan ekspresi imannya,” ujar RD Leo.
Ia juga menekankan bahwa solidaritas memungkinkan Gereja mengelola perbedaan dan konflik secara dewasa, tanpa kehilangan kejujuran iman dan semangat persaudaraan.

Keterlibatan Sosial
RD Leo menegaskan, solidaritas Gereja tidak berhenti pada lingkup internal. Gereja dipanggil hadir di tengah masyarakat sebagai tanda persatuan dan harapan. Karena itu, solidaritas eksternal menuntut keterlibatan nyata dalam memperjuangkan keadilan, kesejahteraan bersama, dan perdamaian.
Keberpihakan pada kaum miskin dan tersingkir, keberanian bersuara terhadap ketimpangan struktural, serta komitmen membangun dialog lintas agama disebutnya sebagai wujud konkret solidaritas Gereja di tengah masyarakat majemuk.
Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan hidup juga menjadi bagian tak terpisahkan dari solidaritas iman. “Merawat alam berarti menjaga rumah bersama dan masa depan generasi berikutnya,” katanya.

Dari Retret ke Kehidupan Sehari-hari
Nilai solidaritas, lanjut RD Leo, menemukan bentuk nyatanya dalam ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari: keluarga, tempat kerja, lingkungan, dan komunitas umat basis (KUB). Di ruang-ruang inilah iman diuji dan diterjemahkan dalam tindakan konkret.
Retret Forkoma PMKRI Regio Timor ini menjadi momentum bagi para alumni PMKRI untuk meneguhkan kembali komitmen mereka sebagai awam Katolik yang terlibat aktif dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.
“Kita mungkin tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan orang lain, tetapi kehadiran dan kepedulian membuat beban hidup tidak ditanggung sendirian,” ujar RD Leo menutup refleksinya.
//Delegasi(Hermen Jawa)











