BerandaBeritaRetret Forkoma PMKRI Regio Timor: Membaca Krisis Dunia Modern dari Ruang Refleksi...

Retret Forkoma PMKRI Regio Timor: Membaca Krisis Dunia Modern dari Ruang Refleksi Iman

Published on

KUPANG, DELEGASI.NET — Narasi besar tentang kemajuan dunia modern kembali dipertanyakan. Di tengah percepatan sains, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi global, muncul kegelisahan tentang arah peradaban manusia.

Kegelisahan inilah yang mengemuka dalam Retret Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Regio Timor yang berlangsung di Kupang, 12–14 Desember 2025.

Dalam salah satu sesi refleksi dan pendalaman intelektual-spiritual, John Kaunang memaparkan kajian bertajuk “Lima Isu Global Dunia Modern yang Potensial Membahayakan Kehidupan di Bumi”. Paparan tersebut menjadi bahan diskusi kritis, refleksi iman, dan dialog kebangsaan di antara para alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) lintas generasi dan profesi.

Mengutip ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Kaunang menegaskan bahwa perubahan memang diharapkan, tetapi menjadi ancaman serius ketika perubahan itu justru merugikan dunia dan menurunkan kualitas hidup sebagian besar umat manusia. “Masalah utama dunia hari ini bukan kekurangan teknologi, melainkan ketiadaan kendali moral,” ujarnya.

Lebih lanjut John Kaunang menjelaskan Retret Forkoma PMKRI Regio Timor tidak hanya diisi doa dan permenungan pribadi. Kegiatan ini dirancang sebagai retret reflektif-kritis, yang memadukan pendalaman iman Katolik, refleksi sosial, diskusi tematik isu global, serta dialog kebangsaan. Dalam kerangka itu, iman diposisikan bukan sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai dasar etis untuk membaca dan mengkritisi zaman.

Spiritualitas Katolik dan Tantangan Modernitas

Kaunang menjelaskan bahwa spiritualitas Katolik berpijak pada tiga pilar utama: Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja, dengan Yesus Kristus sebagai pusatnya. Spiritualitas ini menegaskan martabat manusia sebagai pribadi utuh—jasmani dan rohani—bukan sekadar objek ekonomi atau statistik pembangunan.

Namun, dunia modern justru bergerak ke arah sebaliknya. Berbagai tren pemikiran—humanisme sekuler, teologi global, sinkretisme, hingga perennial philosophy—mendorong kerukunan umat beragama yang cenderung pragmatis dan keduniawian. Kerukunan dipersempit menjadi proyek stabilitas sosial, sementara keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran semakin melemah.

Lima Isu Global yang Mengkhawatirkan

Dalam paparannya, Kaunang memetakan lima isu global yang saling terkait dan membentuk krisis dunia modern.

Pertama, percepatan kemajuan sains dan teknologi tanpa batas moral. Negara modern menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama, sering kali tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan martabat manusia. Akibatnya, sumber daya alam dieksploitasi berlebihan, lingkungan tercemar, dan ketimpangan sosial semakin menganga.

Kedua, manipulasi kepribadian manusia. Makna kebahagiaan direduksi menjadi kepuasan material, gaya hidup hedonistis, dan ukuran kesuksesan ekonomi. Spiritualitas dipinggirkan, sementara manusia diarahkan pada kesenangan instan, termasuk melalui dunia virtual dan teknologi digital.

Ketiga, manipulasi sistem sosial-kemasyarakatan. Nilai-nilai iman dan kearifan budaya lama disingkirkan atau dimanfaatkan secara instrumental. Relasi sosial yang seharusnya menopang kehidupan bersama berubah menjadi alat perebutan kekuasaan dan keuntungan segelintir elite.

Keempat, manipulasi sistem kekuasaan. Demokrasi berjalan secara prosedural, tetapi substansinya kerap dikuasai oligarki dan plutokrasi. Kekuasaan informal—uang, jaringan, dan kepentingan korporasi—lebih menentukan kebijakan publik dibandingkan kehendak rakyat.

Dalam salah satu sesi refleksi dan pendalaman intelektual-spiritual, John Kaunang memaparkan kajian bertajuk “Lima Isu Global Dunia Modern yang Potensial Membahayakan Kehidupan di Bumi” //delegasi(Hermen)

Kelima, pembudidayaan kekerasan. Perang, persekusi, kekerasan struktural, dan kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa era modern tidak otomatis lebih manusiawi. Kekerasan justru berkembang dalam berbagai bentuk—fisik, verbal, psikologis, dan struktural—dengan korban terbesar adalah kelompok miskin dan tak berdaya.

Korupsi sebagai Luka Moral

Diskusi dalam retret juga menyinggung korupsi politik sebagai persoalan laten yang tumbuh subur di balik lima isu tersebut. Penyalahgunaan kewenangan oleh pejabat publik dipandang bukan hanya pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan moral terhadap tujuan bernegara: mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.

Seruan dari Kupang

Retret Forkoma PMKRI Regio Timor menyimpulkan satu pesan tegas: kemajuan tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran. Spiritualitas Katolik dipanggil kembali ke ruang publik sebagai suara profetis—bukan untuk mendominasi, tetapi untuk mengoreksi arah pembangunan dan membela martabat manusia serta keutuhan ciptaan.

Para alumni PMKRI kembali diingatkan pada jati diri gerakan: berpikir kritis, beriman teguh, dan berpihak pada yang lemah—di tengah dunia yang kian maju, tetapi kerap kehilangan nurani.

//Delegasi(Hermen jawa)

Komentar ANDA?

Latest articles

Pelayanan Publik NTT Tembus Kategori Sangat Baik, Dua Kabupaten Masuk Prioritas Pembinaan

KUPANG, DELEGASI.NET — Kualitas pelayanan publik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat kemajuan...

Siapkan Akun Coretax DJP, Ini Langkah Awal Wajib Pajak Sebelum Lapor SPT 2026

KUPANG, DELEGASI.NET - Awal tahun 2026 tidak hanya ditandai dengan tingginya intensitas hujan di...

Renungan Minggu : Ia Berdiri dalam Antrian Kita

Oleh: RD. Leo Mali Yesus mengantri bersama orang-orang biasa untuk dibaptis oleh Yohanes di sungai...

Sebelas DPC Nilai Muswil X PPP NTT Cacat Hukum, Legitimasi Kepemimpinan Dipersoalkan

KUPANG, DELEGASI.NET — Musyawarah Wilayah (Muswil) X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Nusa Tenggara Timur...

More like this

Pelayanan Publik NTT Tembus Kategori Sangat Baik, Dua Kabupaten Masuk Prioritas Pembinaan

KUPANG, DELEGASI.NET — Kualitas pelayanan publik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat kemajuan...

Siapkan Akun Coretax DJP, Ini Langkah Awal Wajib Pajak Sebelum Lapor SPT 2026

KUPANG, DELEGASI.NET - Awal tahun 2026 tidak hanya ditandai dengan tingginya intensitas hujan di...

Renungan Minggu : Ia Berdiri dalam Antrian Kita

Oleh: RD. Leo Mali Yesus mengantri bersama orang-orang biasa untuk dibaptis oleh Yohanes di sungai...