KUPANG, DELEGASI.NET— Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI) Regio Timor menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi alumni sebagai motor penggerak ekonomi lokal Nusa Tenggara Timur (NTT). Gagasan tersebut mengemuka dalam pemaparan materi bertajuk “Strategi Membangun Ekonomi Alumni PMKRI: Mari Kita Mulai Lagi untuk Berbagi” yang disampaikan Tenaga Ahli Madya Kedeputian I Kantor Staf Presiden (KSP), Christopher Nugroho, pada Retret FORKOMA PMKRI Regio Timor di Kupang, Sabtu (13/12/2025).

Didamping Dion D.B Putra sebagai moderator, Christopher, alumni PMKRI angkatan 1992, memaparkan bahwa alumni PMKRI di NTT memiliki potensi besar yang hingga kini belum terorganisasi secara optimal menjadi kekuatan ekonomi terpadu. Alumni PMKRI tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan latar belakang profesi yang beragam—birokrat, politisi, pengusaha, akademisi, hingga aktivis—yang sesungguhnya dapat saling terintegrasi dalam satu ekosistem ekonomi bersama.
“Potensinya besar, tetapi masih tersebar. Tantangan kita adalah bagaimana menjahit jejaring itu menjadi kekuatan ekonomi yang nyata dan berdampak,” ujar Christopher di hadapan peserta retret.
Ia menyoroti sejumlah tantangan utama ekonomi NTT, antara lain keterbatasan akses permodalan, kualitas sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan, rendahnya literasi digital, serta belum kuatnya ekosistem bisnis yang saling menopang antar-alumni. Karena itu, diperlukan langkah terpadu yang mencakup penguatan jejaring, pengembangan UMKM dan kewirausahaan, peningkatan kapasitas SDM, serta kemitraan lintas sektor.
Dalam paparannya, Christopher menegaskan visi ekonomi alumni PMKRI adalah mewujudkan kemandirian ekonomi alumni sekaligus menjadikan alumni sebagai motor penggerak ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat, sejalan dengan nilai Pro Ecclesia et Patria. Prinsip dasarnya adalah ekonomi berbasis jejaring, solidaritas, dan semangat berbagi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, FORKOMA PMKRI didorong membangun penguatan jaringan alumni melalui sensus dan pemetaan profesi serta kompetensi alumni di seluruh NTT, pembentukan Alumni Economic Network di setiap kabupaten/kota, serta pengembangan platform digital sebagai direktori usaha, jasa, dan produk alumni. Konsolidasi rutin, baik secara daring maupun luring, dinilai penting untuk membuka peluang kolaborasi dan berbagi praktik baik.
Salah satu gagasan konkret yang ditekankan adalah gerakan “Bela Beli Alumni”, yakni memprioritaskan penggunaan produk dan jasa sesama alumni guna membangun pasar internal yang kuat. Selain itu, FORKOMA juga didorong membentuk Business Forum, sistem mentoring antara alumni senior dan alumni muda, serta konsorsium usaha bersama di sektor-sektor strategis seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan perdagangan.
Di sektor UMKM, Christopher mengusulkan pembentukan Inkubator Bisnis FORKOMA yang fokus pada pendampingan legalitas usaha, pelatihan kemasan dan merek, pemasaran digital, serta literasi keuangan. Sektor potensial di NTT meliputi pertanian lahan kering (jagung, sorgum, kelor), industri kreatif berbasis tenun ikat dan kerajinan, serta pariwisata lokal seperti homestay dan kuliner.
Penguatan SDM alumni juga menjadi perhatian utama. Pelatihan keterampilan abad ke-21, literasi digital, pelatihan vokasi, sertifikasi profesi, hingga program mentoring, beasiswa, dan career coaching bagi alumni muda dinilai krusial untuk menyiapkan alumni yang kompetitif dan berintegritas.

Dalam jangka panjang, alumni PMKRI diharapkan berperan aktif sebagai watchdog kebijakan ekonomi daerah, memberikan masukan berbasis data kepada pemerintah, serta mengawal program-program UMKM dan pemberdayaan masyarakat. Kemitraan strategis dengan pendekatan pentahelix—pemerintah, akademisi, swasta, gereja, dan komunitas—juga menjadi kunci keberlanjutan.
Sebagai langkah prioritas 2025–2026, Christopher mengusulkan pembentukan Tim Ekonomi Alumni PMKRI NTT, peluncuran basis data dan platform bisnis alumni, pendirian koperasi ekonomi alumni, serta pelaksanaan pelatihan dan inkubasi UMKM secara berkelanjutan dengan proyek percontohan di setiap region.
“Target akhirnya adalah ekosistem ekonomi alumni yang mandiri dan berkelanjutan. Pada 2030, kita menargetkan 500 UMKM alumni, penyerapan lebih dari 1.000 tenaga kerja, serta kontribusi nyata bagi peningkatan ekonomi daerah NTT,” kata Christopher.
Retret FORKOMA PMKRI Regio Timor yang berlangsung pada 12–14 Desember 2025 ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi alumni untuk memperkuat peran strategis mereka, tidak hanya dalam kehidupan sosial dan kebangsaan, tetapi juga dalam pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
//Delegasi(Hermen
//Delegasi(Hermen Jawa)











