Oleh RD. Leo Mali
Perayaan Natal semakin dekat. Seluruh liturgi Gereja bergerak seperti sebuah napas panjang yang menuntun kita pada satu titik perjumpaan: kedatangan Tuhan yang memilih hadir dalam kerapuhan manusia.
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada masa Adven bukan sekadar pengumuman gembira, melainkan sebuah pedagogi iman—cara Allah mendidik hati manusia agar sanggup menerima sesuatu yang melampaui akal sehat, namun tidak meniadakan kemanusiaan.
Nabi Yesaya menajamkan harapan itu dengan nubuat yang sederhana namun mengguncang: “Seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Emanuel.” (Yes. 7:14) Sebuah kalimat yang pada satu sisi penuh janji, namun pada sisi lain sarat misteri.
Allah yang “menyertai” manusia memilih jalan yang paling tidak spektakuler: kandungan seorang perempuan muda, kehidupan keluarga biasa, dan sejarah yang berjalan di tengah keterbatasan.
Injil Matius lalu membawa kita masuk ke sisi lain dari kisah Natal—bukan pada kemeriahan malaikat dan gembala, melainkan pada krisis batin orang-orang terdekat Yesus.
Mateus tidak menampilkan iman sebagai sebuah keyakinan yang langsung mantap dan matang, melainkan sebagai sebuah pergulatan eksistensial antara percaya dan ragu-ragu.
Maria sendiri sempat bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?….. karena aku belum bersuami ” (Luk. 1:34) Yosep, mempelai Maria, bahkan menghadapi keraguan yang jauh lebih berat. Ia tidak mengalami penampakan malaikat di siang hari. Ia hanya mendengar kabar dari Maria yang, bagi nalar manusia, sukar diterima. Wajar karena itu ia ragu-ragu. (Mat. 1: 18-24) Keraguan Yosep adalah keraguan yang sangat manusiawi. Ia berada di antara hukum, martabat, cinta, dan rasa tanggung jawab. Ia ingin berlaku benar, namun juga tidak ingin melukai Maria kekasihnya.
Ia berada di persimpangan antara logika sosial dan bisikan misteri ilahi. Dalam situasi seperti ini, iman sering kali tidak lahir dari argumen yang rapi dan tertata, melainkan dari keheningan yang jujur. Yosep tidak banyak berbicara. Ia memilih diam, menimbang, dan—yang sering kita lupakan— tidur.
Tidur adalah sebuah tindakan masnusiawi ketika seseorang masuk dalam ketidakberdayaannya. Sama seperti Adam yang tertidur, yang darinya Allah menciptakan seorang penolong yang sepadan baginya (Kej. 2:21), Yoseph membiarkan dirinya tenggelam dalam ketidakberdayaannya sesaat ia tertidur. Dan Tuhan bertindak.
Di situlah hal yang mengejutkan terjadi. Keraguan eksistensial yang begitu mendasar ternyata diatasi bukan oleh diskusi panjang atau bukti rasional, melainkan hanya oleh sebuah mimpi.
Dalam tidur, ketika manusia tidak lagi mengontrol segalanya, Allah masuk dan berbicara. Mimpi Yosep bukan pelarian dari kenyataan, melainkan ruang di mana kenyataan diterangi dari dalam. Malaikat Tuhan menegaskan bahwa apa yang terjadi melampaui skema pemikiran manusia.
Pengalaman ini tidak menghancurkan kemanusiaan Yosep. Justru sebaliknya: iman Yosep diteguhkan agar ia berani mengambil tanggung jawab sejarah. Matius mencatat dengan sangat singkat namun penuh makna: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaekat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya” (Mat. 1: 24) Iman sejati selalu diikuti tindakan.
Yosep tidak hanya percaya dalam hati. Ia percaya dan mengubah arah hidupnya. Ia menerima Maria sebagai istrinya. Bagi Yoseph, menerima Maria berarti menerima misteri dalam hidupnya.
Yoseph menjadi penjaga rahasia Allah yang menjelma menjadi manusia. Menjelang Natal, kisah Yosep mengajak kita untuk berdamai dengan keraguan kita sendiri.
Keraguan bukan musuh iman, melainkan pintu yang menuntun pada kepercayaan yang lebih dewasa. Allah tidak selalu berbicara dalam sorak-sorai. Kadang Ia hadir dalam mimpi, dalam keheningan, dalam keputusan kecil yang kita ambil ketika bangun dan memilih untuk taat.
Perayaan Natal adalah undangan Tuhan bagi kita untuk percaya bahwa Allah sungguh “Emanuel”—Allah yang menyertai kita bahkan ketika kita merasa ragu- ragu akan janjiNya.
Dan seperti Yosep, kita dipanggil bukan untuk mengalahkan keraguan dengan pemahaman kita akan rencanNya, melainkan untuk berani membiarkan IA menentukan langkah-langkah hidup kita. Karena IA selalu hadir bersama kita. Dialah Emanuel.***











