KUPANG, DELEGASI.NET— Musyawarah Wilayah (Muswil) X Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Nusa Tenggara Timur yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 7 Januari 2026, bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan.
Forum ini menjadi titik krusial bagi PPP NTT untuk menentukan arah politik lima tahun ke depan, di tengah tantangan elektoral dan kebutuhan konsolidasi internal partai.
Dari lima nama bakal calon ketua DPW PPP NTT, nama Nining Basalamah mencuat paling kuat di bursa calon Ketua kali ini. Pasalnya dukungan terbuka datang dari sejumlah Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP kabupaten/kota se-NTT, yang menilai Muswil kali ini membutuhkan figur pemersatu sekaligus pembaharu.

Ketua DPC PPP Kabupaten Malaka, Ponsianus Manek, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Nining. Ia bahkan meyakini dukungan tersebut bersifat kolektif dari DPC se-NTT. “Kami melihat Nining bukan hanya sebagai kandidat, tetapi sebagai simbol harapan baru PPP NTT,” ujar Ponsianus di Kupang, Selasa (6/1/2026).
Lebih dari Sekadar Figur
Dukungan terhadap Nining Basalamah tidak berdiri di ruang hampa. PPP NTT selama beberapa periode terakhir menghadapi persoalan klasik partai menengah: lemahnya perolehan kursi legislatif, terbatasnya kaderisasi, serta belum optimalnya mesin partai hingga ke tingkat akar rumput. Dalam konteks ini, figur ketua DPW tidak lagi cukup hanya memiliki legitimasi struktural, tetapi juga kapasitas manajerial dan keberanian melakukan pembenahan.
Ponsianus menilai Nining memenuhi prasyarat tersebut. Selain pengalaman organisasi, Nining dipandang memiliki visi yang jelas untuk membesarkan PPP sebagai partai berbasis nilai keislaman yang inklusif dan adaptif terhadap dinamika politik lokal NTT. “Ia punya tekad kuat, paham manajemen organisasi, dan berani melakukan perubahan,” kata Ponsianus.
Menariknya, pencalonan Nining juga memuat dimensi simbolik penting. Di tengah dominasi figur laki-laki dalam kepemimpinan partai politik di daerah, kehadiran Nining sebagai kandidat perempuan dinilai membawa perspektif baru. Bagi sebagian kader, ini menjadi pesan bahwa PPP NTT siap membuka ruang kepemimpinan yang lebih progresif dan meritokratis.
Target Elektoral sebagai Ujian Nyata
Namun, dukungan dan harapan besar tersebut pada akhirnya akan diuji oleh realitas politik. Ponsianus secara tegas menyebut target Pemilu 2029: PPP harus memiliki keterwakilan di setiap tingkatan legislatif, mulai dari DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi NTT, hingga DPR RI.
Target ini bukan perkara ringan. Ia menuntut kerja sistematis: penguatan struktur DPC dan PAC, rekrutmen kader potensial, serta strategi komunikasi politik yang mampu menjangkau pemilih muda dan pemilih rasional. Jika terpilih, Nining Basalamah akan dihadapkan pada pekerjaan rumah besar—mengubah dukungan struktural menjadi kekuatan elektoral nyata.
Muswil X PPP NTT, dengan demikian, menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi internal. Ia adalah ruang refleksi sekaligus penentuan arah: apakah PPP NTT mampu keluar dari stagnasi dan tampil sebagai kekuatan politik yang relevan, atau kembali terjebak dalam siklus rutin tanpa lompatan berarti.
Nama Nining Basalamah kini berada di pusat pusaran itu. Jika benar dukungan DPC se-NTT solid seperti yang diklaim, Muswil kali ini bisa menjadi awal babak baru bagi PPP NTT. Namun seperti lazimnya politik, legitimasi sesungguhnya baru lahir setelah janji diuji oleh kerja dan hasil.
//Delegasi (yos)











